Thursday, 17 August 2017

Sri Asih -- Super Women Indonesia


Bagi para pecinta karakter super hero, tentu tidak asing dengan sosok superhero cantik ‘Wonder Woman’ yang merupakan karakter perempuan superhero fiktif yang muncul di buku komik Amerika Serikat yang diterbitkan oleh DC Comics popular sejak tahun 1941.



Dia memiliki berbagai kekuatan manusia super dan kemampuan berlaga dan bertarung yang hebat. Dia memiliki berbagai senjata, termasuk Laso Kebenaran, sepasang gelang yang tak terkalahkan, sebuah tiara yang dapat dijadikan sebagai proyektil, dan (pada kisah yang lama) serangkaian perangkat yang berdasarkan teknologi Amazon.

Ternyata tak hanya di Amerika, di Indonesia juga ada superhero wanita yakni ‘Sri Asih’. Sri Asih adalah tokoh komik ciptaan R.A. Kosasih. Diterbitkan pertama kali pada tahun 1954 oleh Penerbit Melodie. Sri Asih bisa dianggap adaptasi komik pahlawan super Amerika ke dalam corak Indonesia.

‘Sri Asih’ dikisahkan sebagai Nani Wijaya seorang gadis lugu yang apabila dia mengucapkan kata sakti "Dewi Asih" maka ia akan berubah menjadi pahlawan super wanita yang bisa terbang, kebal, berkekuatan super, bisa menggandakan diri, dan memperbesar tubuhnya. Kisah-kisah Sri Asih tidak hanya berlokasi di Indonesia tetapi juga sampai ke Singapura dan Macao.

Walaupun terinspirasi dari karakter Wonder Woman, tapi penampilan Sri Asih sangat berbeda dengan Wonder Woman. Penampilan dan kostum Sri Asih bergaya busana “berkemben” seperti dalam cerita perwayangan Indonesia dengan mahkota, kain sumping dan selendang.

Sri Asih memiliki kekuatan super yang dahsyat, bisa terbang secepat angin, kebal terhadap berbagai jenis senjata, dan ketika Sri Asih merasa agak kesulitan menghadapi musuhnya, ia bisa menggandakan (memperbanyak) dirinya atau bisa juga merubah ukuran tubuhnya menjadi besar.



Penulis: M Iswan
Sumber : http://jakartavenue.com/read/article/2017/06/20/18693/Mengenal-Karakter-SRI-ASIH-Wonder-Woman-Versi-Indonesia

Friday, 28 July 2017

Maza - Pangeran Mimpi

Maza Revolusi
Maza Revolusi 2017
Maza, atau Maza Sang Penakluk, adalah salah satu tokoh superhero Indonesia yang termasuk salah satu yang terpopuler dalam dunia komik superhero Indonesia, ciptaan (karangan) Hasmi, yang muncul pada tahun 1968. Maza berpenampilan seperti tokoh Tarzan, berbadan kekar dan memiliki kekuatan super. Maza juga punya sahabat “Jin”, yang selalu siap menemani dan melindunginya, yang bernama Jin Kartubi, yang bisa dipanggil lewat pisau belatinya.
sal-usul
Dalam suatu mimpi, Kanigara merasa dirinya adalah seorang bernama Maza. Seekor ular bernama Schobin meminta tolong kepadanya untuk menemukan sebuah mutiara biru dan putrinya yang bernama Vatienc. Pencurinya adalah penyihir jahat bernama Rahczor. Rahczor tinggal di Pulau Tengkorak Hitam. Ketika Maza bertemu penyihir itu dia meminta tebusan kepada Maza berupa tengkorak harimau putihbertanduk tiga. Orang-orang dari suku Galar membantu Maza menemukan benda tersebut. Rachzor melakukan kecurangan. Begitu tahu Maza telah berhasil dia menghadapkan Maza dengan monster-monster ciptaannya. Ketika itu pula Jin Kartubi datang menolong Maza dan membunuh Rachzor. Vatienc ditemukan. Segala sihir Rachzor sirna. Ular Schobin kembali ke wujud manusia. Raja Schobin. Mutiara biru juga telah kembali. Kartubi memberi Maza sebuah cincin. Ketika Maza memanjat sebuah tebing, tiba-tiba ia terjatuh dan terbangun dari mimpinya. Tiba-tiba sebuah kuas dengan cincin ajaib melingkar di gagangnya berbicara. Rupanya itu adalah suara Jin Kartubi yang memberi tahu bahwa mimpi itu adalah tanda suatu kenyataan. Kanigara tanpa sengaja mengetuk kuasnya di meja dan tiba-tiba ia berubah menjadi pria kekar menjadi Maza Sang Penakluk sama seperti dalam mimpinya tadi, kemudian kuas berubah menjadi belati.
Komik Maza
  1. Maza Rumah Seribu Bunga, Hasmi, 1970
  2. Maza di Negeri Jin, Hasmi
  3. Lonceng Byzantium, Hasmi
  4. Air Mata Biru, Hasmi, 1980
sumber:
https://planetsuperhero.wordpress.com/2015/02/11/maza/

Keterangan diatas adalah komik Maza pada jaman dahulu. di tahun 2017 muncul komik Maza Revolusi sebagai berikut:


Maza episode 2: